Selasa, 06 Desember 2016

Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan

Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan
Filsafat sebagai suatu cara pencarian kebijakan memiliki cabang-cabangnya yang saling berkaitan. Lapangan akal pikiran dalam filsafat meliputi ontology, epistemology, dan aksiologi. Seperti dimaklumi, bahwa filsafat ilmu pengetahuan merupakan cabang dari filsafat yang bersifat otonom. Sejalan dengan hal itu, maka kajian filsafat ilmu pengetahuan adalah telaahan secara filsafat tentang hakikat ilmu pengetahuan. Adapun hakikat ilmu pengetahuan tersebut mengacu kepada jawaban terhadap pertanyaan: apa, bagaimana, dan untuk apa?
Pertanyaan pertama mengacu kepada jawaban tentang apa hakikat ilmu pengetahuan itu. Pertanyaan ini menuntut jawaban berupa substansi atau diri (hakikat) objek yang diketahui. Adapun pertanyaan berikutnya, yakni bagaimana, berhubungan dengan proses dan cara yang digunakan untuk menemukan dan memperoleh ilmu pengetahuan itu. Selanjutnya, jawaban dari pertanyaan untuk apa, terkaitdengan kegunaan atau pemanfaatan ilmu pengetahuan, yakni nilai kegunaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketiga pertanyaan tersebut dijadikan bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan, yakni ontology, epistemology, dan aksiologi.
Ontologi
Ontologi berasal dari kata yunani on (ada), dan ontos berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontology adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Kata yunani onto berarti “yang ada secara nyata”, kenyataan yang sesungguhnya. Ontology adalah ilmu yang mengkaji tentang hakikat ilmu. Hakikat apa yang dikaji. Dikemukakan pula bahwa ontology ilmu mengkaji apa hakikat ilmu pengetahuan, apa hakikat kebenaran rasional atau kebenaran deduktif dan kenyataan empiris yang tidak terlepas dari persepsi tentang apa dan bagaimana (yang) “ada” itu.
Adapun yang dimaksud dengan ontology adalah kajian yang memusatkan diri pada pemecahan esensi sesuatu atau wujud, tentang asas-asasnyadan relalitas. Asas-asas tentang sesuatu wujud yang nyata. Keberadaan dan realitasnya dapat dicermati dan ditangkap oleh panca indera manusia. Dengan demikian, ontology adalah telaah secara filsafat yang ingin menjawab objek apa yang telah ditelaah oleh ilmu? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?.
Dalam pengertian yang lebih luas, secara garis besarnya, pengertian ontology dapat dirumuskan menjadi: 1) ontology adalah studi tentang arti “ada” dan “berada”, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam arti dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak. 2) ontology adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau penampakan, esensi atau penampakan, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebagainya. 3) ontology adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu yang satu, yang absolute, bentuk abadi, sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak bergantung kepadaNya, dan 4) ontology adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.

Epistemologi
Epistemology berasal dari kata yunani episteme yang berarti “pengetahuan”, “pengetahuan yang benar”, “pengetahuan ilmiah”, dan logos berarti teori. Dengan demikian, secara etimologis, epistemologis dapat diartikan sebagai teori ilmu pengetahuan. Sebagai cabang filsafat, epistemology menyelidiki asal, sifat, metode, dan bahasan pengetahuan manusia. Epistemology juga disebut sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge). Epistemologi sebagai teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Sebab pengetahuan didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan.
Secara lebih rinci cakupan etimologi dikemukakan jujun S. Surialsumantri: Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapat pengetahuan yang benar? Apakah yang disebut kebenaran itu, dan apa kriterianya? Cara, teknik, dan sarana apa yang membantu kita mendapatkan pengetahuan berupa ilmu?.
Lebih jauh, epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan sahnya (validitas) pengetahuan. Bila dalam filsafat pertanyaan pokoknya adalah “apakah ada itu?”, maka dalam epistemologi pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”.
Aksiologi
Merujuk ke asal katanya, aksiologi tersusun dari kata bahasa Yunani axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos artinya teori. Aksiologi adalah “teori tentang nilai”. Nilai merupakan realitas yang abstrak yang berfungsi sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam hidup. Nilai menempati kedudukan penting dalam kehidupan seseorang, sampai pada suatu tingkat dimana sementara orang lebih siap mengorbankan hidup ketimbang mengorbankan nilai. Nilai dapat dilacak dari tiga realitas, yakni: pola tingkah laku, pola berpikir, dan sikap-sikap seorang pribadi atau kelompok.
Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi berhubungan dengan penggunaaan ilmu pengetahuan. Seperti dimaklumi, bahwa ilmu pengetahuan ditujukan untuk kepentingan hidup manusia. Ilmu pengetahuan membantu manusia mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menguasai ilmu  pengetahuan, manusia mampu mengobservasi, memprediksi, memanipulasi, dan menguasai alam.
Sebagai contoh, musim hujan yang berkepanjangan akan mendatangkan banjir. Hasil observasi dari pengalaman berulang-ulang ini membawa pada kesimpulan tentang gejala ala mini. Berdasarkan kesimpulan tadi selanjutnya dapat diprediksi kapan musim hujan terjadi, dan dapat mengakibatkan banjir. Selanjutnya melalui pengalaman diketahui pula bahwa air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Atas dasar pemahaman ini maka di buat saluran (manipulasi). Melalui saluran tersebut, luapan air akhirnya dapat diatasi. Gejala alam berupa banjir dapat dikuasai. Lebih dari itu dengan bantuan ilmu pengetahuan itu, luapan air dapat dimanfaatkan. Ilmu pengetahuan tentang air ini ternyata sudah lama dikenal manusia. Bahkan memasuki abad ke-20 kemampuan manusia merekayasa air telah melahirkan sedikitnya 20 cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan langsung dengan air, atau hydrolic sciences.

Realita hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan

REALITA HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Kita berusaha melihat realita hubungannya, berdasarkan suatu asumsi, bahwa keduanya merupakan kegiatan manusia. Kegiatan manusia dapat diartikan dalam prosesnya dan juga dalam hasilnya. Dilihat dari hasilnya, filsafat dan ilmu merupakan hasil daripada berpikir manusia secara sadar, sedangkan dilihat dari segi prosesnya, filsafat dan ilmu menunjukan suatu kegiatan yang berusaha untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan manusia (untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan), dengan menggunakan metode-metode atau prosedur-prosedur tertentu secara sistematis dan kritis.
Filsafat dan ilmu memiliki hubungan saling melengkapi satu sama lainnya. Perbedaan antara kedua kegiatan manusia itu, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling mengisi, saling melengkapi, karena pada hakikatnya, perbedaan itu terjadi disebabkan cara pendekatan yang berbeda. Maka dalam hal ini perlu membandingkan antar filsafat dan ilmu, yang menyangkut perbedaan-perbedaan maupun titik temu antara keduanya.

Manusia adalah "ens metaphysicum"

MANUSIA ADALAH “ENS METAPHYSICUM”
Setelah menentukan definisi filsafat, sekarang kita ingin memperdalam pengertian tentang filsafat, yaitu dengan menunjukan bagaimana filsafat itu timbul dari kodrat manusia, artinya asal ada manusia, ada filsafat, karena sesuai dengan kodratnya manusia itu.
Mengenai hal ini pokoknya telah diterangkan yaitu bagaimana dari keinginan akan mengerti, akan kebenaran, timbullah ilmu-ilmu pengetahuan dan akhirnya munculah filsafat. Akan tetapi pandangan ini masih kurang lengkap masih berat sebelah, seakan-akan filsafat hanya timbul bagi para ahli ilmu pengetahuan saja, dan sama sekali tidak berarti bagi mereka yang bukan ahli ilmu pengetahuan. Paahal dalam kenyataannya tidak setiap orang adalah ahli ilmu pengetahuan. Sebaliknya setiap ahli ilmu pengetahuan itu pasti, bahkan pertama-tama adalah manusia. Dan kita justru ingin membuktikan bahwa filsafat itu timbul bagi setiap orang, asal saja ia hidup sadar dan menggunakan pikirannya.
Jadi marilah kita menyelidiki kedudukan filsafat didalam keseluruhan hidup kita, menyelidiki peranan ilmu pengetahuan itu didalam kehidupan manusia. Telah dikatakan: filsafat adalah bentuk pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahuan manusia yang tersempurna, merupakan perkembangan yang terakhir daripada “pengetahuan biasa”. Inilah yang sekarang harus diperdalam. Pengetahuan biasa tetap merupakan dasarnya, sekarang hanya ingin kami kemukakan beberapa spek lain, selain ilmu-ilmu pengetahuan yang semuanya mendorong manusia kearah filsafat. Hingga menjadi jelas bagi kita bahwa manusia memang betul-betul disebut “ens metaphysicum”. Menurut Aristoteles artinya makhluk yang menurut kodratnya berfilsafat.
Jika memang demikian halnya, jika betul-betul setiap orang karena kodratnya terdorong akan filsafat maka apakah harus kita katakana bahwa setiap orang pasti menjadi seorang ahli filsafat? Apakah filsafat itu niscaya timbul? Jika demikian, mengapa tidak setiap orang tidak kita lihat bermenung-menung sebagai filsuf? Untuk menerangkan hal ini, maka kita harus membedakan antara:
Filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan
Filsafat dalam arti yang lebih luas, yaitu dalam arti:usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu.
Maka filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang tersendiri itu tidak niscaya adanya, itu meminta tingkatan kebudayaan yang agak tinggi. Sebaliknya filsafat dalam arti yang lebih luas, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia itu dapatlah kita katakana tentu ada, biarpun hanya sedikit. Lagi pula dalam masyarakat yang tingkatnya belum berkembang kita jumpai pikiran-pikiran tentang “sebab dan akibat”, pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup, tentang perbuatan-perbuatan manusia yang baik dan yang buruk atau etika dan lain-lain.
Jadi pandangan-pandangan yang sifatnya telah dapat disebut “metafisik”. Hanyalah kesemuanya itu tidak atau lebih tepat dikatakan: belum dipikir-pikirkan. Dipertanggungjawabkan, disusun-susun secara ilmu pengetahuan. Hal ini memerlukan proses pertumbuhan yang agak lama, seperti juga halnya semua ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.

Hakikat historisitas

HAKIKAT HISTORISITAS
Apa itu historisitas? Menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Alasannya, karena historisitas terkait dengan eksistensi manusia. Manusia menyadari diri sebagai makhluk menyejarah hanya melalui pengalamannya. “apa artinya menjadi manusia?” karena menjadi manusia sesungguhnya hanya diperoleh melalui pengalaman, maka jawaban atas pertanyaan “apa itu historisitas?” juga hanya bisa diperoleh melalui pengalaman. Itu berarti, historisitas sesungguhnya tidak mungkin diberi definisi yang definitif. Kendati demikian kita dapat memformulasikannya dengan cara pandang yang ada, yang dalam hal ini adalah cara pandang filosofis.
Dalam filsafat, sejarah manusia bukanlah sebuah katalog ensiklopedia segala hal yang diketahui tentang manusia. Sejarah adalah dinamika hidup manusia dalam horizon waktu. Secara lain dapat dikatakan sejarah adalah cara berada manusia dalam menghayati hidupnya dengan menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan membukakannya kemasa yang akan dating. Disini merefleksikan segala pengalaman hidup merupakan kegiatan utama. Dengan refleksi manusia menyadari apa yang diketahuinya. Dalam arti ini seperti dikatakan oleh Sokrates, sejarah merupakan proses belajar manusi untuk mengingat, tetapi dengan ingatannya ia lebih sadar tentang apa yang diketahuinya secara implisit.
Apa yang dikatakan oleh Sokrates diatas cukup penting untuk mengerti hakikat historisitas. Pernyataan itu ingin menegaskan bahwa ketika manusia merefleksikan keberadaannya dan makna kemanusiaan, termasuk ketika ia ingin mencari makna historisitas, ia membuat pemahaman yang lebih tepat tentang pengalaman masa lalunya. Dengan demikian dalam pemahaman filsafat konsepsi tentang masa lampau tetap diakui sebagai substansi dari masa yang yang akan dating.
Secara lain dapat dikatakan, masa lampau dipandang sebagai sesuatu yang pernah hadir pada suatu waktu, namun juga bisa dihadirkan lagi dalam masa sekarang dan dimasa yang akan datang. Dalam arti ini, sejarah merupakan gerakan procedural yang terdiri dari dua momen, yakni momen yang lebih dulu dan momen berikutnya yang didukung oleh momen sebelumnya, seperti dikatakan oleh Xavier Zubiri. Jadi, setiap momen sejarah beranjak dari satu momen kemomen yang lain. Selain masa lalu, manusia juga hidup dalam masa kini. Masa kini merupakan momen yang yang menandakan bahwa manusia hadir dalam situasi dan dunia yang konkret. Disamping masa kini, ada juga masa depan. Masa depan bagi manusia merupakan sebuah arah yang dituju. Masa depan adalah sebuah proyeksi, sekaligus tugas. Ia merupakan orientasi. Masa depan memuat harapan.
Dari semua paparan diatas kita dapat memformulasikan arti historisitas sebagai cara berada manusia dengan mengungkapkan dimensi-dimensinya dalam horizon waktu. Dalam formulasi ini hakikat sejarah sangat terkait dengan pengalaman hidup manusia dimasa lalu, yang bisa dihadirkan lagi masa kini dan masa yang akan datang, bukan ajaran-ajaran atau dokumentasi dan warisan-warisan dari masa lalu.   

Permulaan filsafat adalah keheranan

PERMULAAN FILSAFAT ADALAH KEHERANAN
Menurut Aristoteles, filsafat dimulai dengan suatu thauma (rasa kagum) yang timbul dari suatu aporia, yakni suatu kesulitan yang dialami karena adanya percakapan-percakapan yang saling kontradiksi. Istilah aporia dari bahasa yunani juga berarti problema, pertanyaan atau “tanpa jalan keluar”. Jadi filsafat itu mulai ketika manusia mengagumi dunia dan berusaha menerangkan berbagai gejala dunia dan berusaha menerangkan berbagai gejala dunia itu. Apabila kita sungguh-sungguh hidup dengan sadar didunia ini, tak dapat tiada kita tentu akan berhadapan dengan berbagai pertanyaan dan persoalan. Hasrat akan mengerti itu menyatakan diri dalam bermacam-macam pertanyaan-pertanyaan, yang sungguh-sungguh tidak mudah dijawab dengan sekaligus. Yang dapat bertanya demikian itu hanya manusia saja hewan tidak bertanya, tidak mempersoalkan apa yang dialaminya itu. Lain halnya dengan manusia sejak waktu ia mulai menyadari dunia, orang lain dan dirinya sendiri, maka heranlah ia tercengang-cengang artinya ia insyaf bahwa ada hal-hal yang sangat biasa saja, misalnya: tentang bunga, pohon, burung, kucing dan lain-lain. Dan yang teraneh dari semuanya itu ialah manusia itu sendiri, mengapa dan bagaimana hidupnya dan matinya dan sebagainya.
Manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri, bahkan boleh dikatakan ia adalah teka-teki bagi dirinya sendiri suatu tanda tanya besar suatu persoalan yang harus dikerjakan sendiri. Siapakah sebetulnya aku disini, bagaimanakah dan kemanakah hidupku ini? Pertanyaan-pertanyaan itu semua sering diistilahkan dengan perkataan “rahasia hidup”. Dengan merenungkan, perpikir-pikir yang demikian ini selalu akan mengantar kita kedalam “rahasia hidup” itu. Rahasia artinya pertanyaan atau persoalan yang tak dapat dijawab dengan memuaskan sepenuhnya, karena jawaban yang diberikan itu selalu akan menimbulkan seratus pertanyaan lain lagi sebab selalu ada saja terkandung arti yang tidak atau belum kita tangkap. Itulah sebabnya filsafat tak pernah akan selesai penyelidikannya. Dan anehnya ini tidak menyebabkan kita lalu putus asa melainkan sebaliknya.
Keheranan berubah sifatnya menjadi kekaguman yang memperkaya manusia.
Dalam filsafatlah tersinggung dan terjelma usaha-usaha manusia untuk mencari jawaban-jawaban atas teka-teki itu. Dengan kehidupan manusia bertanyalah kita dan akan bertanya terus-menerus, didorong oleh keinginan akan menyelami rahasia segala sesuatu, rahasia hidup kita sendiri, rahasia orang-orang lainnya, rahasia dunia dan rahasia Tuhan Pencipta Semesta Alam.  

Filsafat bersifat eksistensial

FILSAFAT BERSIFAT EKSISTENSIAL
Filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang kita pelajari sekarang ini sering nampak sukar, karena memang mengandung pandangan-pandangan yang muluk-muluk yang dalam-dalam dan sukar dimengerti. Akan tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa filsafat itu lalu tidak ada artinya bagi kita, sebaliknya, karena yang dipersoalkan dalam filsafat itu ialah: diri kita sendiri. Filsafat adalah “existensial” sifatnya, erat hubungannya dengan hidup kita sehari-hari, dengan adanya manusia sendiri. Hidup kita sendiri yang memberikan bahan-bahan untuk direnungkan. Filsafat berdasarkan dan berpangkalan pada manusia yang konkrit, pada diri kita yang hidup didalam dunia dengan segala persoalan-persoalan yang kita hadapi.
Apabila dalam filsafat terdapat teori-teori yang muluk-muluk dan sukar maka hal itu maksud dan tujuannya tidak lain hanya ingin menerangkan kenyataan yang konkrit dan real yang kita alami didunia ini.
Mengenai isi dari filsafat itu berbeda-beda menurut masa diperkembangkannya. Berganti-ganti yang dipersoalkan atau yang dititik beratkan ialah:
Dunia yang mengelilingi kita.
Sikap hidup atau kesusilaan.
Hubungan antara manusia manusia dan Tuhan atau sikap religious.
Struktur dan susunan pengetahuan dab sebagainya.
Pada waktu sekarang ini makin banyak ditiitk beratkan pada sifat eksistensial bahwa kita dalam filsafat harus berpangkal pada situasi kita sendiri didalam dunia ini. Justru sifat eksistensial inilah yang dijadikan dasar dari aliran filsafat “eksistensialisme” yang berkembang pada abad ke 20 ini.
Jadi filsafat adalah pernyataan atau penjelmaan dari sesuatu yang hidup didalam hati setiap orang. Maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi kita semua.

Senin, 17 Oktober 2016

Mengapa ada filsafat dalam pendidikan

Kedudukan filsafat dalam pendidikan merupakan fondasi yang tidak dapat diganti oleh dasar lainnya dan sebagai landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijakan dan pelaksa­naan pendidikan. Filsafat merupakan pandangan hidup yang menentukan arah dan tujuan proses pendidikan, karena itu filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Pendidikan itu pada hakikatnya adalah proses pewarisan nilai-nilai filsafat yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik dari keadaan yang sebelumnya.
Filsafat dan pendidikan, keduanya merupakan semacam usaha yang sama. Berfilsafat ialah mencari nilai-nilai ide (cita-cita) yang lebih baik, sedangkan pendidikan menyatakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan pribadi manusia. Pendidik­an bertindak mencari arah yang terbaik, sedangkan filsafat dapat memberi latihan yang pada dasarnya diberikan kepada anak. Hal ini bertujuan untuk membina manusia dalam membangun nilai-nilai yang kritis dalam watak mereka. Dengan jalan ini, mereka mempunyai cita-cita hidup yang tinggi dengan berubah­nya filsafat yang tertanam dalam diri mereka. Dengan demikian, filsafat sebagai landasan pendidikan adalah landasan mencari kesatuan pandangan untuk memecahkan berbagai problem dalam lapangan pendidikan.
Filsafat, jika dilihat dari fungsinya secara praktis, adalah sebagai sarana bagi manusia untuk dapat memecahkan berba­gai problematika kehidupan yang dihadapinya, termasuk dalam problematika di bidang pendidikan. Oleh karena itu, apabila dihubungkan dengan persoalan pendidikan secara luas, dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan arah dan pedoman atau pijakan dasar bagi tercapainya pelaksanaan dan tujuan pendidik­an. Jadi, filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan yang merupakan penerapan analisis filosofis dalam lapangan pendidikan.
Keberadaan filsafat dalam ilmu pendidikan, bukan merupakan insidental. Artinya, filsafat itu merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Filsafat mengajukan pertanyaan-perta­nyaan dan menyelidiki aspek-aspek realita dan pengalaman yang banyak didapatkan dalam bidang pendidikan. Dengan melihat tugas dan fungsinya, maka pendidikan harus dapat menyerap, mengolah, menganalis, dan menjabarkan aspirasi dan ideali­tas masyarakat itu dalam jiwa generasi penerusnya. Untuk itu, pendidikan diharapkan bisa menggali dan memahami melalui pemikiran filosofis secara menyeluruh. Oleh karena itu, filsafat merupakan teori umum, sebagai landasan dari semua pemikiran umum mengenai pendidikan.
Tujuan pendidikan adalah tujuan filsafat, yaitu untuk membimbing kearah kebijaksanaan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah realisasi dari ide-ide filsafat. Filsafat memberi asas kepastian bagi peranan pendidikan sebagai wadah pembi­naan manusia yang telah melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas pendidikan. Jadi, filsafat pendidikan merupakan jiwa dan pedoman dasar pendidikan.

Filsafat tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan, sebab filsafat itu merupakan jiwa bagi pendidikan. Dan untuk merealisasikan pandangan filsafat tentang pendidikan, ada beberapa unsur yang dapat dijadikan tonggak untuk pengembangan pendidikan lebih lanjut, meliputi (1) dasar dan tujuan pendidikan, (2) pendidikan dan peserta didik, (3) kurikulum, dan (4) sistem pendidikan.
1. Dasar dan tujuan
Dasar pendidikan merupakan suatu asas untuk mengem­bangkan bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, karena pendidikan memerlukan landasan kerja untuk membe­ri arah bagi programnya. Di samping itu, asas tersebut juga bisa berfungsi sebagai sumber peraturan yang akan digunakan sebagai pegangan hidup dan pegangan langkah pelaksanaan.
Secara umum, tujuan pendidikan dapat dikatakan dapat membawa anak ke arah tingkat kedewasaan. Artinya, membawa anak didik agar dapat mandiri dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Disamping itu, tujuan pendidikan juga dapat memeng­aruhi strategi pemilihan teknik penyajian pendidikan yang dipergunakan untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak didik dalam mencapai tujuan pendidikan yang sudah dirumuskan. Sedangkan tujuan pendidikan yang lain adalah perubahan yang diusahakan untuk mencapaitujuan pendidik­an pada tingkah laku individu maupun pada kehidupan pribadi, baik kehidupan bermasyarakat, dan kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat.
Jadi, dasar dan tujuan pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengem­bangkan bidang pendidikan menuju terbinanya kepribadian yang tinggi sesuai dengan dasar persiapan pendidikan. Setiap perbuatan pendidikan ini merupakan bagian dari suatu proses menuju suatu tujuan yang telah diharapkan dan ditentukan oleh masyarakat.
2. Pendidik dan peserta didik
Pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam satu situasi pendidikan untuk menca­pai tujuan pendidikan (Yusuf,1982:53). Individu yang mampu itu adalah orang dewasa yang bertanggung jawab, sehat jasma­ni dan ruhani, mampu berdiri sendiri dan mampu menanggung risiko dari segala perbuatannya.
Kesediaan dan kerelaan untuk menerima tanggung jawab itulah yang pertama dan utarna dituntut dari seorang pendidik. Tanpa pendidik, tujuan pendidikan manapun yang telah dirumuskan tidak akan dicapai oleh anak didik.
Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkem­bang, baik ditinjau dari segi fisik maupun dari segi perkembarigan mental. Setiap kegiatan pendidikan sudah pasti memerlukan unmu anak didik sebagai sasaran dari kegiatan tersebut. Yang dimaksud anak didik di sini adalah anak yang belum dewasa yang memer­lukan bimbingan dan pertolongan dari orang lain yang sudah dewasa dalam melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai individu.

3. Kurikulum
              Kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan dalam suatu lemba­ga kependidikan. Segala hal yang harus diketahui, diresapi dan dihayati oleh anak didik haruslah ditetapkan dalam kurikulum. Dan, segala hal yang harus diajarkan oleh pendidik pada anak didiknya pun haruslah dijabarkan dalam kurikulum. Kurikulum tersebut menggambarkan secara jelas bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan pendidik dan anak didik dalam proses belajar mengajar. Jadi, kurikulum itu menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga pendidikan.
Hubungan antara tujuan pendidikan dan kurikulum adalah hubungan antara tujuan dan isi pendidikan. Sebagai isi dan jalan untuk mencapai tujuan pendidikan, maka kurikulum menyang­kut masalah-masalah nilai, ilmu, teori, skill, praktik, pembinaan mental, dan sebagainya. Ini berarti, bahwa kurikulum itu harus mengandung isi pengalaman yang kaya demi realisasi tujuan. Dengan kata lain, kurikulum harus kaya dengan pengalaman­pengalaman yang bersifat membina kepribadian. Jadi, hubungan kurikulum dengan pandangan filsafat terutama tampak pada bentuk-bentuk kurikulum yang dilaksanakan. Satu asas filosofi itu menjadi latar belakang pendidikan itu berupa nilai demokrasi misalnya, maka prinsip kebebasan, prinsip berpikir, dan individualistis akan selalu diutamakan.
4. Sistem pendidikan
Pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga negara/masyarakat, dengan memilih materi, strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai.
Dalam sejarah pendidikan dapat dijumpai berbagai pandangan atau teori mengenai bagaimana perkembangan manusia itu berlangsung. Beberapa aliran tentang perkembangan manusia dan hasil pendidikan itu adalah:
a. Empirisme, bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidupnya, sebagaimana John Locke berpendapat bahwa anak yang di dunia ini sebagai kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin (tabula rasa) yang belum ada tulis­an di atasnya.
b. Nativisme. Ini merupakan teori yang bertolak belakang dengan teori empirisme, bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik dan pembawaan yang buruk. Dalam hubungannya dengan pendidikan dan perkembang­an manusia, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan itu ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak lahir.
c. Naturalisme, bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak seorang anak pun lahir dengan pembawaan buruk. Aliran ini bersifat negativisme, di mana pendidik wajib membiarkan pertum­buhan anak didik secara alamiah.
d. Konvergensi, bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik maupun buruk. Menurutnya, hasil pendidikan itu tergantung dari pemba­waan dan lingkungan, seakan-akan seperti dua garis yang menuju satu titik pertemuan. Teori konvergensi ini berpan­dangan bahwa: (1) pendidikan mungkin diberikan; (2) yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan itu sendiri; dan (3) pendidikan diartikan sebagai penolong atau pertolongan yang diberikan pada lingkungan anak didik untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah berkembangnya pembawaan yang buruk.
Dari keempat aliran/teori perkembangan manusia dan teori pendidikan tersebut, pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandang­an hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikan atau sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan (Djumberansyah,1994:16).
Adapun korelasi antara filsafat pendidikan dan sistem pendidikan itu adalah:
1. Bahwa sistem pendidikan atau science of education bertugas merumuskan alat-alat, prasarana, pelaksanaan teknik-teknik dan/atau pola-pola proses pendidikan dan pengajaran dengan makna akan dicapai dan dibina tujuan-tujuan pendidik­an,
2. Isi moral pendidikan atau tujuan intermediate adalah perumusan norma-norma atau nilai spiritual etis yang akan dijadikan sistem nilai pendidikan dan/atau merupakan konsepsi dasar nilai moral pendidikan, yang berlaku di segala jenis dan tingkat pendidikan;
3. Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normatif dasar-dasar dan tujuan pendi­dikan, hakikat dan sifat hakikat manusia, hakikat dan segi-segi pendidikan, isi moral pendidikan, dan sistem pendidikan.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa filsafat dalam pendi­dikan merupakan tata pola pikir terhadap permasalahan di bidang pendidikan dan pengajaran yang senantiasa mempu­nyai hubungan dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain yang diperlukan oleh pendidik atau guru sebagai pengajar dalam bidang studi tertentu.