Senin, 26 Desember 2016

Filosofi Daun Dan Angin

Filosofi Daun Dan Angin
Jangan tanyakan soal kebebasan pada daun yang gugur, yang dia tahu hanyalah tangkal dan tanah.
Tanyakan padanya bagaimana rasanya terjatuh, lalu disapu
Bagaimana rasanya ditumbuhkan dan dituakan, dan menghabiskan hidup dengan membalas budi pada pohon
Bagaimana rasanya bergeming karena tidak ada pilihan, bukan karena kehendak
Bagaimana rasanya dijatuhkan ketika sudah terlalu tua dan tak sanggup berpegangan pada pohon, hingga pohon melepaskannya
Pohon tempat ia ditumbuhkan dan membalas budi
Tanyakan angin soal kebebasan
Bagaimana bebasnya dia berlari tanpa terlihat
Bagaimana rasanya mempermainkan kincir angin dan memutarnya kesana kemari
Bagaimana rasanya ditunggu ketika matahari terlalu terik, mengiring awan lalu menyatukannya hingga terjadi hujan
Atau bagaimana rasanya menyatukan udara panas dan dingin, membuat angin topan lalu menghancurkan perkotaan
Hidup mungkin dirasa tidak adil bagi daun-daun yang gugur, tidak juga bagi angin
Daun gugur tidak pernah merasakan kebebasan seperti angin, sedangkan angin tidak merasakan perihnya digugurkan seperti daun-daun
Tetapi angin tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ditumbuhkan, disayangi, dijadikan bagian dari suatu keluarga besar, seperti daun
karena dia adalah angin. Dia tidak punya siapa-siapa.
Saya mau jadi daun aja daripada angin. Ternyata kebebasan itu bukan apa-apa ketika kamu ga punya siapa-siapa. Dan saya masih punya orang yang lebih saya cintai daripada sekedar kebebasan.

Filosofi Angin

Filosofi Angin
Cinta itu tidak rumit, hanya orang-orang yang mecintalah yang rumit. Cinta bukan soal gengsi, rindu yang menggebu, degdegan, bertemu-lalu pergi ataupun sakit dan kecewa. Bukan, bukan soal itu. Tapi, bagaimana cinta dan orang-orang yang bermain dengan cintalah yang membuat aku menjadi semakin dewasa. Banyak orang mengganggap cinta juga soal sex, tangisan dan juga dibawa terbang keatas lalu dijatuhkan. tapi, cinta adalah tentang ketulusan  dan memaafkan.
Semuanya memang sepeti angin.
Angin itu tidak terlihat, kadang datang-pergi semaunya angin itu, terkadang juga angin selalu dinanti agar tidak panas. Dan yang terpenting adalah, siapa yang bisa menghentikan angin? Tidak ada. Hanya Tuhan yang bisa. Sama hal nya dengan cinta, siapa yang bisa menghentikannya? Hanya Tuhan yang bisa dan selagi orang-orang didalam cinta mau untuk merelakan yang tidak baik itu pergi.
Aku pernah mencintai seseorang yang seperti angin. Tapi ini lain, dia bukan hanya sekedar angin. Kenapa? Karna dia bisa menghempaskan ku dalam jurang yang dalam. Aku bagai daun kering yang rapuh untuknya. Hanya tertiup angin saja aku bisa jatuh berguguran dan bahkan aku dapat hancur karnanya. Tapi bagiku, daun yang terjatuh tidak akan pernah untuk membenci sang angin. Sama halnya denganku, yang tidak pernah bisa untuk membencinya.

Belajar Hidup Dari Filosofi Air

Belajar Hidup Dari Filosofi Air
Setiap hari kita memang harus belajar, karena belajar itu tiada henti dan tanpa ada batasan. Kita tidak harus belajar melalui jalur formal, karena belajar melalui jalur formal biasanya ada tamatannya atau batasanya. Akan tetapi, Kita bisa terus belajar dari apapun, siapapun, kapanpun, dan dimanapun dan dari apa yang ada di sekeliling kita. Kita juga bisa Belajar Hidup Dari Filosofi Air yang sangat luar biasa. Sesuatu yang ada dan mudah kita jumpai dalam kehidupan kita. lalu, pembelajaran apa yang bisa kita ambil dari sifat AIR?
Air akan selalu mengalir ke tempat yang rendah
Apa pembelajarannya?
Air akan selalu mengalir ke tempat yang rendah. artinya Air itu Ibarat Ilmu, karena ilmu hanya akan bisa mengalir kepada orang-orang yang rendah. bukan orang yang rendah diri, tetapi orang-orang yang rendah hati, orang yang tidak sombong, orang yang tidak merasanya dirinya pintar. karena biasanya orang yang selalu rendah hati akan selalu siap untuk belajar karna pikirannya terbuka dan mau menerima ilmu, persepsi, dan pandangan yang baru. bahkan sampai kritikan yang bisa di jadikan motivasi dalam hidup mereka.
Air mudah kembali Normal setelah mendapat guncangan
Apa pembelajarannya?
Kita bisa mengambil contoh saat kita melemparkan sebuah batu kedalam air lalu membandingkannya saat kita melempar batu pada tumpukan pasir. apa yang terjadi?
Air walaupun menerima hantaman batu sekeras apapun tekanan sehebat apapun, dia hanya akan bergelombang, memercikan air, serta beriak hanya untuk beberapa saat. tak lama kemudian batu yang kita lemparkanpun hilang entah kemana dan kita tidak bisa melihat tepat berada dimana batu tersebut. lalu permukaan airpun akan kembali normal, datar dan tenang.
Lalu apa yang terjadi saat kita melempar pada sebuah tumpukan pasir. Pasir akan mengalami bekas bongkahan atau coak yang tertinggal akibat hantaman keras batu yang kita lemparkan. sebagian lagi berhamparan dan berserakan tak beraturan.
Manusia juga dalam kehidupan sehari-hari seringkali mengalami yang namanya tekanan, cacian,  makian, hinaan, dan di dzolimi entah dari siapapun, yang kalau kemudian malah itu membentuk coak dalam diri kita, maka kita akan terus merasakan sakit itu dalam jangka waktu yang lama. maka kita bisa menggunakan sifat air dengan cara memaafkan dan ikhlas. karena dengan memaafkan secara tidak langsung kita akan kembali menghilangkan coak tersebut dengan menganggap tidak terjadi sesuatu serta melupakanya, yang justru hal tersebut akan membantu kita untuk melihat kehidupan ini lebih mudah dan indah serta menjaga pikiran kita tetap positif.
Air itu fleksibel
Apa pembelajarannya?
Kita bisa mengambil contoh saat kita melemparkan sebuah batu kedalam air lalu membandingkannya saat kita melempar batu pada tumpukan pasir. apa yang terjadi?
Air walaupun menerima hantaman batu sekeras apapun tekanan sehebat apapun, dia hanya akan bergelombang, memercikan air, serta beriak hanya untuk beberapa saat. tak lama kemudian batu yang kita lemparkanpun hilang entah kemana dan kita tidak bisa melihat tepat berada dimana batu tersebut. lalu permukaan airpun akan kembali normal, datar dan tenang.
Lalu apa yang terjadi saat kita melempar pada sebuah tumpukan pasir. Pasir akan mengalami bekas bongkahan atau coak yang tertinggal akibat hantaman keras batu yang kita lemparkan. sebagian lagi berhamparan dan berserakan tak beraturan.
Manusia juga dalam kehidupan sehari-hari seringkali mengalami yang namanya tekanan, cacian,  makian, hinaan, dan di dzolimi entah dari siapapun, yang kalau kemudian malah itu membentuk coak dalam diri kita, maka kita akan terus merasakan sakit itu dalam jangka waktu yang lama. maka kita bisa menggunakan sifat air dengan cara memaafkan dan ikhlas. karena dengan memaafkan secara tidak langsung kita akan kembali menghilangkan coak tersebut dengan menganggap tidak terjadi sesuatu serta melupakanya, yang justru hal tersebut akan membantu kita untuk melihat kehidupan ini lebih mudah dan indah serta menjaga pikiran kita tetap positif.
Air itu fleksibel
Kalau kita perhatikan, saat kita menuangkan air, air akan selalu mengalir kedalam wadah dan mengikuti bentuk wadah tersebut. contohnya saat kita memasukan air kedalam botol, maka air tersebut akan mengikuti bentuk botol tersebut. begitu juga saat kita memasukannya kedalam gelas atau bentuk wadah apapun, maka air akan tetap mengikuti bentuk wadah tersebut.
  Lalu Apa pembelajarannya?
Artinya air itu fleksibel, maka kita juga sebagai manusia harus fleksibel. karena kita hidup tidak sendiri, kita hidup bersosilisasi. kita hidup dengan orang-orang yang tidak bisa selalu mengerti perasaan dan pikiran kita, maka kitapun harus belajar untuk mengerti perasaan dan pikiran orang lain serta menghormati dan menghargainya sebagai manusia. itulah yang dimaksud dengan fleksible. jika kita selalu bersikeras terhadap apa yang kita mau, selalu bersikeras terhadap apa yang kita rasakan dan hanya berharap orang mau mengerti perasaan kita serta tidak adanya fleksibilitas disana maka sudah bisa di pastikan kita akan di jauhi oleh banyak orang. yang penting harus diingat adalah, dalam hidup kita akan banyak berinteraksi dan bersosialisasi dengan banyak orang. dengan bersikap fleksibel maka kita akan belajar untuk melihat pikiran dan perasan orang lain.
Air mengajarkan hidup untuk seimbang
Sebagai contoh jika hidup kekurangan air, maka akan terjadi kekeringan. namun jika kebanyakan air, yang ada juga akan menyebabkan kebanjiran. contoh lain, jika kita melihat air putih semua orang pasti sepakat bahwa air putih tersebut adalah baik dan sehat buat tubuh kita untuk kita minum. namun, jika kita terus-terusan meminum air tersebut justru akan berakibat tidak baik buat tubuh. yang pertama kali bisa langsung dirasakan adalah membuat perut kembung. namun jika kita tidak meminum air dalam jangka waktu yang lama maka tubuh kita juga akan mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan. Artinya apa? air mengajarkan kita untuk hidup seimbang. bahwasaanya semua harus ada takaran atau ukuranya serta tidak boleh berlebih atupun berkurang.
Begitupan dalam kehidupan. jika kita setiap hari terus-terusan bekerja agar bisa menghasilkan uang yang banyak. Maka sudah pasti akan ada yang dikorbankan. tak jarang hal tersebut justru membuat kita mengabaikan diri sendiri lupa makan, lupa ibadah bahkan secara tidak sadar telah mengabaikan keluarganya sendiri.
dan yang lebih buruk justru hal tersebut bisa membuat kita malah jatuh sakit. oleh karenaya dalam hidup perlu adanya keseimbangan.
Sifat alamiah air itu mendinginkan atau memadamkan
Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa mengambil sifat alamiah air tersebut yang kehadirannya bisa di gunakan untuk mendamaikan dan memadamkan amarah banyak orang disekitar kita serta tidak semakin menyulut amarah.

Filosofi Biji

Filosofi Biji
Aku memejamkan mataku. Terguncang bahuku menahan kepedihan yang teramat. Kenapa mereka begitu tega memperlakukanmu sedemikian. Aku menangis dalam diamku, tapi air mataku tak mungkin bisa menyembunyikan sakit yang aku rasakan.
Aku lihat engkau diam tak bergeming. Memandangi selembar kertas yang baru saja dikirimkan oleh tukang pos ke rumah kita. Matamu memerah.
“Astaqfirullah..” engkau bergumam sambil memejamkan mata.
“Sudahlah Pa, ini pasti yang terbaik dari Allah.” Aku mencoba menguatkan hatimu. Aku menggenggam tanganmu untuk memberitahumu bahwa ada aku disampingmu untuk melalui semua masa-masa sulit ini.
Aku mendorong kursi rodamu ke dekat taman di ruang tengah, tempat dimana biasanya engkau menghabiskan hari-hari beberapa bulan ini.
“Mama siapkan sarapan dulu ya Pa..” Aku berlalu sambil menyeka air mataku. Engkau tetap tak bergeming, diam dengan muka datar. Jika aku saja sehancur ini, bagaiman engkau wahai suamiku.
Surat pemecatanmu yang datang dikirim tukang pos pagi ini benar-benar telah membawa awan gelap pada aura wajahmu. Disaat engkau berjuang memulihkan rasa traumamu atas kecelakaan itu, kawan-kawan yang kau harapkan datang memberi semangat tak nampak datang. Hanya di awal saja, setelah itu semua seakan menjauh dan berlari. Dan surat itu telah mengabarkan kepada kita, bahwa perusahaan tempatmu bekerja tak lagi mau terbebani olehmu.
Aku menarik nafas panjang. Mencoba melegakan dadaku yang terasa sangat sesak. Terbayang bagitu banyak kewajiban yang harus kita tanggung ke depannya. Biaya sekolah anak-anak, cicilan mobil, asuransi, biaya kebutuhan rumah dan kebutuhan lainnya. Aku memejamkan mataku, bantu kami ya Allah.
Semua mata memandangmu kagum. Mereka semua tersenyum dan menyalamimu memberikan ucapan selamat atas prestasi yang kau raih. Ruangan ini menjadi saksi bahwa begitu banyak orang yang ingin ada di posisimu, kehidupan yang sempurna seperti yang mereka katakan. Karir yang cemerlang, keluarga harmonis, anak-anak yang sehat dan pintar, serta kawan-kawan yang selalu setia mendampingi.
Tapi ada hati yang ketakutan, hati yang mengkhawatirkan mu. Aku bahagia atas semua pencapaian karirmu selama ini, kau telah menunjukkan pada kami bahwa kau memang layak mendapatkan posisi terbaik diperusahaan. Tapi jujur, aku mengkhawatirkanmu. Kau semakin sibuk dan terlihat kesulitan membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Diposisi yang sebelumnya saja, kau sering mengabaikan kami bagaimanalah nanti diposisimu yang jauh lebih tinggi ini.
Aku memendam kekhawatiranku sendiri. Terdiam diantara riuh reda ucapan selamat yang diberikan kawan-kawanmu kepadamu. Aku mencoba ikut bergembira di acara makan malam yang sengaja dirancang untuk memberikan penghormatan atas jabatan baru yang kau raih.
“Pa, mama mau buka usaha ya. Usaha rumahan, biar kita bisa ada penghasilan. Sekaligus mama juga tetap bisa urus papa.” Kataku perlahan sambil menyuapi makanan kepadamu.

Sejak kecelakaan itu, kau mengalami kelumpuhan. Tangan dan kakimu tidak dapat digerakkan. Benturan di belakang kepalamu telah menyebabkan gegar otak dan beberapa pembuluh darah diotakmu pecah. Kau lumpuh dan tak bisa melakukan apa-apa. Kau juga tidak mampu lagi berpikir terlalu berat.

“Maafkan papa ya ma” Engkau berkata terbata-bata. Aku tersenyum.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan pa, ini sudah takdir Allah. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian ini.” Aku terus menyuapimu seraya memberimu kekuatan untuk terus bersemangat menjalani hidup.

“Mungkin ini hukuman dari Allah, karena selama ini papa terlalu membanggakan pekerjaan papa dan sering mengabaikan keluarga. Papa menyesal ma.” Kau menatapku tajam.

Aku tersenyum. Aku memang ingin kau meluangkan banyak waktu untuk kami, tapi bukan dengan kondisi seperti ini. Aku meraih tangan kananmu yang terkulai lemas diatas sandaran tangan kursi rodamu. Ku letakkan tangan itu di wajahmu. Tangan yang dulu selalu membelaiku dengan lembut, walaupun akhirnya belaian itu semakin berkurang saat karirmu semakin menanjak.

“Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita Pa. Semoga saja dengan semua masalah hidup kita, menjadikan kita lebih dekat kepadaNya. Lebih sering mengingatNya dan semakin menyadari KebesaranNya.”

Aku mendorog kursi rodanya ke taman samping. Berjalan menuju kolam ikan koi kesukaannya.

“Papa tau filosofi biji? Dia keras dan seperti mati. Tapi sebenarnya dia bisa hidup. Dan untuk menghidupkannya, kita perlu menanamnya, memendamnya didalam tanah. Untuk sejenak biji itu akan mengalami masa gelap didalam tanah, mungkin juga tak ada oksigen. Tapi setelah itu, biji itu akan tumbuh kan. Begitu juga kita Pa, mungkin Allah memberi kesempitan dan masalah dalam hidup kita agar hati kita menjadi hidup dan mengenal Allah.” Aku memelukmu dari samping.
“Mungkin dulu kita banyak mengabaikan Allah, menjauh dariNya. Dengan adanya masalah ini, kita seharusnya semakin dekat dengan Allah. Allah rindu kita Pa, Allah ingin kita kembali meminta kepadaNya, Allah ingin kita selalu bergantung hanya kepadaNya. Bukan kepada pekerjaan, bukan pada teman-teman dikantor. “
Aku melihatmu menitikkan air mata. Aku memelukmu sembari berdoa “Kami datang ya Allah, bantu kami untuk mengenalimu, bantu kami untuk mendekat kepadamu.”.

Filosofi Diam

Filosofi Diam
Kita berjalan di atas catwalk bersama-sama sambil memainkan peran masing-masing, lalu kita menyebutnya hidup. Seseorang terlihat bahagia, seseorag terlihat sedih, dan seseorang terlihat cuek dengan hidupnya. Namun sejatinya mereka semua adalah “terlihat”, bagaimana kejadian yang sebenarnya hanyalah dia, sahabatnya, dan Allah yang tahu. Kita bahkan lebih sering memberikan kesan bahagia kepada orang lain dari pada kesan bahagia terhadap diri kita sendiri. Ini adalah kebutuhan manusia untuk diaggap sukses, yang kemudian mereka berharap dengan anggapan itu, mereka akan lebih di hormati, diperhatikan, dan ditaati. Semua itu merupakan upaya untuk menyembunyikan diri dari orang lain, dan tidak jarang, kita juga mencoba menyembunyika diri kita dari diri sendiri, upaya ini disebut sebagai diam.
Teman saya –biasa saya panggil Ny Robinson- adalah salah orang yang saya hormati. Dia memiliki kehidupannya sendiri dan seringkali membuatku tercekik, tersenyum, bersedih, bahagia, dan juga merasa aneh (lebih sering yang terakhir). Kita bisa menyebutnya orang yang aneh (a weird person). Salah satu keanehannya yang paling akut adalah diam. Ia suka berdiam diri seakan itu adalah segalanya. Ia mencintai ke-diam-annya. Ia lebih banyak diam dari pada semua yang pernah ia lakukan terhadap hidu itu sendiri. Pada suatu ketika, aku ngobrol dengannya lalu bertanya :
"Lagi apa?”
“Lagi diam”
“Berarti tidak ada kerjaan? Kenapa tidak sms aku?”
“Kalau aku sms kamu, berarti saya tidak ingin diam”
“Apa sih enaknya diam?”
“Nggak ada, nggak enak. Tapi aku nggak tahu untuk tidak menjadi diam”
Yang mengerikan adalah bahwa dia tidak bisa memilih yang lain kecuali diam. Mari kita yakiini dahulu bahwa kegiatan diam ini tidak hanya dialami oleh teman saya tersebut. Bahkan diri saya sendiri yang ketika melakukan perjalanan di hidup ini sering kali bertanya, sering kali merasa, sering kali terkejut, lalu saya berdiam diri untuk menikmati semua itu. Begitu juga anda bukan? Kadang kala kita diam sambil membaca sebuah puisi, lalu kita menangis. Kadang kita diam sambil merenung, lalu timbullah semangat dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Kadang kala kita diam, dan hanya diam, lalu tiba-tiba menangis tanpa tahu sebabnya.
Diam tersebut merupakan usaha untuk membohongi diri sendiri. Kita tahu banyak kejadian yang tidak sesuai keinginan namun kita tidak bisa melakukan apa-apa. Ada orang yang kita cintai tapi kita tidak sanggup menjadi pantas untuk meminangnya. Ada kesedihan yang dialami orang lain dan kita ingin sekali menolong mereka tapi kita tidak sanggup. Kesemua hal tersebut akan menimbulkan kesedihan, alih-alih membohongi diri sendiri, kita memilih diam. Dengan diam itu kita bisa melakukan segalanya, dan lebih dari cukup untuk sekedar merenungi, memotivasi diri, dan memecahkan persoalan meskipun hanya sebatas pikiran.
Makna diam
Diam adalah sebuah sikap fisik. Dari yang saya bayangkan mengenai teman saya ataupun juga para pertapa, bahwa mereka berdiam hanyalah secara fisik. Jadi jika kita ingin mengatakan bahwa diam itu tidak bergerak dan tidak berfikir, itu jelas salah. Bahkan beberapa orang yang kita katakan pendiam juga sebenarnya berfikir lebih banyak dari kita. Hal ini bisa kita lihat kejiwaan seseorang berdasarkan karakter prikologisnya, namun disini, bolehlah tidak usah kita bahas.
Namun apa yang kita fahami tentang diam selama ini masihlah berkutat pada penghakiman bahwa diam itu tidak membawa manfaat. Kita menganggap dengan berdiam diri, seseorang tidak akan mendapatkan kehangatan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Memang, jika itu dilihat secara fisik, diam membawa mudharat ;tidak adanya komunikasi dengan orang lain dalam waktu tertentu bahkan membuat penyakit psikologis tertentu. Bahkan yang sering kita menyebut mereka sebagai psikopat, atau yang lebih umum adalah orang aneh.
Menjadi diam tidak melulu putus komunikasi. Beberapa orang memang pendiam, namun mereka memiliki dunia yang tidak dimiliki oleh orang lain. Seperti teman saya diatas, dia berdiam diri di kamarnya, lalu sambil mematikan lampunya dia duduk di pojok ruangan sambil berfikir banyak hal –saking banyaknya sampai dia tidak ingat satupun. Dia memiliki dunianya sendiri.
Memang ketika kita tengah diam, kadang kita merasa ada kenikmatan yang tidak bisa di ungkapkan, sekaligus kesakitan yang sangat. Hal ini hampir sama dengan diam-nya orang yang sedang putus cinta, dia akan jadi pendiam, penyendiri, lalu mulai teringat-ingat kisah cintanya, tentang si dia, tentang harapan dan kebahagiaannya, lalu teringat bagaimana kekasihnya menyakiti hatinya lalu mereka putus. Di balik diam-nya, tersembunyi rasa nikmat yang menghubungkan pikirannya dengan masa lalu, tapi secara bersamaan timbul penyesalan dan rasa sakit yang luar biasa.
Bagaimana dengan ungkapan bahwa diam itu emas? Memang, diam itu emas jika kita mengaturnya dengan baik. Karena dengan sedikit bicara (diam) kita akan banyak mendengar, dengan banyak mendengar kita akan banyak berfikir, dengan banyak berfikir, kita akan semakin bijak. Tapi tidak semua orang memahami bahwa ketika diam itu dikatakan emas, bagaimana kalau bicara baik?
Sudah jelas dalam sabda Nabi Muhammad, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bicara yang benar, atau diam”. Maka, jika kita mampu berbicara yang baik, mampu menguasai ilmu kalam sehingga bisa menyadarkan banyak orang, bisa membela agama Allah, maka tentu saja, tidak ada yang lebih tinggi dari pada bicara tentang itu semua. Ketika kita bicara hanya untuk melecehkan diri sendiri, maka kita semestinya diam –atau kita dianggap tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.
Akhirnya, diam itu memiliki berbagai macam versi. Karena diamnya seorang perempuan atau laki-laki kepada pasangannya juga merupakan diam dalam wacana yang berbeda. Begitu juga diamnya orang yang ngambek, diamnya orang bisu, diamnya orang yang sedang marah,diamnya orang pemalu, dan diamnya orang yang tidak punya kepercayaan diri untuk bicara. Banyak hal dalam ke-diam-an. Dan lebih banyak lagi yang tidak kita ketahui mengapa teman saya diatas, menyukai diam.

Burung Sakura dan Filosofinya

Bunga Sakura dan Filosofinya
Pertama kita mendeskripsikan tentang Jepang, pasti ada salah satu pokok bahasan kita yang akan menyangkut dengan sesuatu yang memang telah menjadi ciri khas dari negara ini. Ya, bunga Sakura misalnya. Bunga Sakura di Jepang akan mekar setiap musim semi datang, dan seakan memberikan kecerahan dan memekarkan harapan bagi masyarakat Jepang. Ketika masa ini, akan ada perayaan bagi masyarakat Jepang yang disebut dengan “Hanami”, di mana mereka akan berjalan-jalan di taman bunga Sakura dan duduk sambil makan-makan di bawahnya.
Bunga Sakura adalah simbol pengingat tentang adanya hukum kebalikan di dunia ini. Di mana ada kebahagiaan, di situ ada kesedihan. Di mana ada senyuman, akan selalu ada tangisan. Semua yang berkebalikan di dunia ini disimbolkan oleh bunga Sakura. Setiap kali bunga Sakura bermekaran, akan selalu ada pertanda senyuman dan kebahagiaan yang menghiasi dunia ini. Namun saat daun-daunnya berguguran, akan datang saat kesunyian dan kesedihan yang menjadi teman.
Bunga Sakura ketika mekar hanya berumur seminggu. Sungguh waktu yang sangat singkat. Namun, dari waktu yang singkat itu, bunga Sakura telah bisa membagikan kebahagiaan ke semua orang. Bunga Sakura telah mampu membuat setiap orang akan merindukan kedatangannya lagi di tahun depan. Ya, bunga Sakura akan selalu dinanti.
SAKURA adalah JANJI. Yang walau usianya terlalu singkat, tapi ia BERJANJI akan kembali mekar di musim semi selanjutnya. Ia akan kembali membagi keindahannya, ia akan kembali membagi keceriaan bagi siapa saja yang memandangnya. Sakura BERJANJI akan datang lagi. (diambil dari blog lain)

“Setiap kali bunga sakura bermekaran, di suatu tempat lonceng harapan pun bergema.. Selalu percaya hari esok, kita melangkah dengan berani.. Setiap kali bunga sakura bermekaran, di suatu tempat seseorang tengah berdoa, untuk datangnya hari esok yang kita gapai dengan usaha kita sendiri..” (Sakura No Hanabiratachi/Kelopak Bunga Sakura)

Di sini, saya selalu berharap suatu hari nanti bisa meraih bunga Sakura. Saya selalu berharap suatu hari bisa melihat bunga Sakura berguguran, dan merindukannya lagi untuk memekarkan harapan-harapan yang biasanya terlupakan.
“Bersamaan dengan warna jingga yang telah terlukis merata di langit kita, secara tiba-tiba kamu terdiam lalu memegang tanganku. Bayangan hitam memanjang, mencoba memudarkan bersama dengan cahaya langitnya.
Sepulang sekolah pada waktu itu, aku merasa bahwa kita akan selalu bersama. Tiada keharusan bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal. Tapi, kita sama-sama tahu, kita akan memulai perjalanan baru sebagaimana yang aku ragukan dan aku sembunyikan tentang jalan masa depan yang tak berbatas. Kamu tersenyum, dan impian-impianmu berkilauan menyilaukan untuk mencoba meninggalkan sedikit yang tersisa di musim ini.
Kita bermain dengan bebas, sambil berandai seolah kita tak akan pernah berpisah dalam perjalanan menuju hari esok. Sepuluh tahun kemudian, walau kita berada di bawah langit yang berbeda, kita pasti akan baik-baik saja, kan?
Kini, kita telah melambaikan tangan di persimpangan jalan. Setiap aku berjalan menaiki tanjakan kecil menuju rumahku dan tiap aku membalikkan badanku, siluetmu terlihat semakin mengecil. Kita semakin menjauh. Tapi aku tak pernah lupa tentang janji-janji masa kecil itu, juga semua mimik wajahmu yang membuatku senang.
Walaupun semua momen yang kita ciptakan bisa saja suatu hari hanya akan cukup menjadi kenangan. Kenangan yang tak jauh beda dengan matahari yang menghilang oleh cakrawala langit yang menyambut malam.”

Filoaofi Burung

Filosofi Burung
Saat sang induk burung betina mengerami telurnya, dengan setia tidak meninggalkan sarangnya, Induk burung jantan dengan ketulusannya pergi mencari makan dan segera kembali ke sarang untuk menyuapi isterinya dengan penuh kasih sayang.
Saat telur burung menetas, anak_anak burung pun bermanjaan menyambut kehangatan induknya, dan sang induk bergantian memberikan perlindungan pada anak2nya.
Saatnya sang ibu pergi mencarikan makan untuk anak-anaknya yang kelaparan di dalam sangkar. Ia rela menahan lapar sebelum anaknya kenyang.
Setelah anak-anak tumbuh besar, sang ayah akan mengajarkan anak-anaknya terbang, dan dengan kesabaran menyambut anak-anaknya yg jatuh dan memberinya semangat untuk terus belajar terbang.
Saat semua telah bisa terbang, burung-burung itu memiliki kebebasannya untuk mengarungi dunia, tiada kemelekatan dan tiada pamrih, demi kebahagiaan semuanya mereka belajar untuk terus bertahan hidup dan terbang bebas melihat keindahan alam bebas.
Bagaimana dengan kita? Sudahlah filosofi burung menjadi renungan hidup bagi kita?
Manusia jauh lebih berhati mulia dari pada burung, Ada burung-burung tertentu, ketika anaknya lahir cacat, maka induknya langsung mendepak sang anak dari sarangnya, dan anak burung yg tidak mampu bertahan hidup akan segera mati.
Tidak dapat dipungkiri, ada manusia yang mengaborsi anaknya sebelum kelahirannya di dunia, atau menelantarkan anak yang sudah dilahirkanya, ada juga yang tega membuang anaknya ke tong sampah, atau dihanyutkan di sungai.
Tentu masih banyak orang tua yang memiliki cinta kasih, kasih sayang dan kebijaksanaan pada anak-anaknya. Kebahagiaan Keluarga jauh diatas segalanya. Semoga Semua Bahagia adanya, semoga semua selalu damai, tentram dan bahagia.