Filosofi Pohon Jati
Alkisah seorang guru dan murid sedang berjalan melintasdisebuah hutan di pulau jawa, sang murid melihat pohon-pohon jati yang meranggas kering.
Dengan penuh penasaran sang murid, bertanya kepada gurunya,
“guru, baru 2 bulan lalu kita melewati tempat ini, waktu itu kita merasakan kesejukan dibawah naungan pohon jati yang daunnya berwarna hijau segar”
“kemarau dengan panas yang terik dan air yang tertahan di langit, mengharuskan jati melewati harinya dengan menggugurkan daunnya” jawab guru singkat.
“lalu bagaimana cara pohon jati bisa berkembang dan tumbuh tanpa daun? bukankah sangat penting untuk menyerap sinar matahari? mereka bisa mati kalau begini terus” sang murid mendesak guru untuk menjelaskan
“Itulah hikmahnya yang diajarkan Tuhan melalui pohon jati, meski tanpa daun justru pohon jati menempa dirinya menjadi salah satu pohon terkuat di dunia. Ia sedang bertumbuh yang tidak terlihat secara kasat mata, tapi bertumbuh dalam mental menghadapi ujian, ia menggugurkan daun masalah yang ada dibadannya, untuk dapat tetap hidup dan bersiap ketika gelombang musim hujan kembali datang”
Demikian pula dengan keberhasilan, rata-rata mereka yang berhasil mampu MENUNDA KESENANGAN atau bersabar atas kerja kerasnya yang belum berbuah dan tetap konsisten serta pantang menyerah.
Senin, 26 Desember 2016
Filosofi Pohon Jati
Filosofi Hati
Filosofi Hati
“Untuk apa pacaran? Demi apa pacaran? Mengapa kamu pacaran? Manfaat apa yang kamu peroleh dari pacaran? Sama sekali nggak ada!”
Aku diam. Duduk tegak layaknya garuda wisnu kencana yang menumbukkan mata pada perempuan berhijab di depan kelas. Mendengar deru pacu kata demi kata perempuan religius yang kini tengah berdiri di depan kelas. Berkoar membuka acara islami sederhana untuk mengisi kekosongan menit-menit tatkala para adam sujud berjamaah di Jumat tanpa syahwat.
“Kita cewek, perempuan. Sekarang aku tanya.. Siapa sih yang paling dirugikan ketika kita berpacaran?” ujar seniorku lantang saat memresentasikan projeknyda dalam proyeksi layar putih lebar yang terbentangkan di dinding depan.
“Kita!” Sahut kami serempak.
Perempuan kuning langsat itu tersenyum samar. Kalakian bertanya pelan, “Lalu, kenapa kamu masih mau pacaran?”
Untuk beberapa detik, hanya terdengar jawaban yang bertalun dalam ganglia. Hingga seorang yang duduk paling depan menjawab, “Karena pacaran itu nggak pernah tersebutkan dalam firman, sabda atau riwayat apapun dalam Islam, kak!”
Sudut-sudut bibir perempuan itu tertarik lagi. Dengan sesirat geli yang terselip dalam gurat lipatan dahinya. “Tidakkah kamu berfikir, wahai akhwat? Adam yang mengejar kita hanyalah menuntut birahi semata. Mereka terbutakan oleh nafsu. Bahkan tak jarang mereka mengedokkan ‘taubat’ dalam aksinya. Coba lihat! Selama ini, bukankah kita selalu menjadi pihak yang selalu mendapat imbas buruknya?” Sunyi sekejap menghampiri–lagi. Aku dan barisan kawan kelas ini termangu dalam jabaran cuap demi cuapnya. Kemudian ia berucap, “Kita berharga. Wanita ialah pengrupa perhiasan. Allah telah memberi wadah spesial bagi wanita hingga kita harus benar-benar menjaganya hingga waktu yang tepat tiba.”
Sekali lagi, aku bergidik. Meski aku belum pernah merasa warna-warni berhubungan dekat seperti itu, membayangkan hal-hal yang tersuarakan oleh bibirnya jujur buatku merenung. Benar, tak dapat disangkal sebelum aku mengikuti kelas agama ini hati masih merasa ingin dimiliki dan memiliki. Setidaknya aku ingin menyesapi manisnya kata tersebut dalam nyata yang tertangkap virtual oleh kedua-belah pihak. Bukan sendiri yang jatuh hati tanpa seorang pun yang siap merengkuh diri.
Buru-buru perempuan penyadar batinku itu menyambung, “Rasa itu pasti ada. Tapi pacaran? Cuma nafsu yang mewakilkan kata tersebut.” Rasa? Cinta? Hati? Lalu aku tak sungguh-sungguh mendengarkannya lagi. Neuronku mengimpuls sisa memori yang baru saja menakhlikkan fragmen konversasi beberapa jam yang lalu. Membumbung srebrum dalam filosofi baru yang tak pernah kukira sebelumnya.
“Jodoh, adalah saat kamu merupakan bagian hidup dia dan dia merupakan bagian hidupmu. Saling mengisi, melengkapi dan mengerti.”
Aku masih tak mengerti.
Duduk di kursi guru, menghadap pada seorang wanita paruh baya kalem di sampingku, berada dalam satu bimbingan.. Entahlah. Berbagi kisah dengan seorang guru konseling di sekolah adalah kali pertama bagiku. Ini aneh. Sebelumnya setiap aku bercerita dengan kerabat dekat yang timbul bukanlah kegamangan, namun mengapa kali ini berbeda?
“Perasaan itu nggak tentu. Yang hari ini kamu sayang banget, bisa aja besok malah berbalik benci. Bukannya Tuhan memang memberikan rasa pada kita dalam itu tiba-tiba?” Sekonyong-konyong, kufilter rangkaian kalimat yang baru saja tercetuskan oleh beliau. Bu Ning, selaku mentor psikis sekolahku baru saja memberikan hal asing dalam tangkupan anteriorku. Ini salah. Bukan. Aku tak bisa menerima prinsip ini.
Perasaanku berbeda. Aku tahu hal ini sejak pertama kali menangkap getar abnormalnya. Hatiku bukan tak menentu. Aku telah menetap. Tersekap dalam sosok pujangga sebegitu dalamnya hingga aku pun mendebat, “Tapi mengapa saya sering ngerasa ‘sakit’ ya, bu, kalau ngerapalin nama dia dalam doa?”
Wanita berhijab itu mengulum senyum samar, “Mengapa harus sakit? Suka itu nggak perlu dipaksa. Hal wajar itu. Dari sana, rasa bisa berubah menjadi cinta. Dan tahukah kamu bagaimana seorang remaja yang memikirkan cinta? Orientasi fikirannya akan terpusat pada hal tersebut lalu ia pun mulai mengimajinasikan hal-hal yang mungkin akan ia lakukan bersama orang yang ia cintai. Sampai hasrat untuk mendapatkan keinginan tersebut membuat kita terdorong untuk memilikinya. Bukankah ironi jika kita hanya mencintai lantaran untuk merasakan hal-hal manis duniawi tersebut?” Wanita itu menghela nafas sesaat, lalu menggumam pelan, “Cinta itu haruslah ikhlas. Tulus dari hati tanpa mengharap apapun dari yang kita cintai.”
Aku terpaku. Tak dapat mengungkapkan apapun. Teori ini buatku beku. Sepersekian detik dendrit dan neuritku pun deras mengimpuls hingga terkoneksi benar seluruh informa. Beliau benar. Sangat benar.
“Sekarang pertanyaannya, memang seseorang itu juga mau berhubungan dekat seperti itu dengan kita? Kita nggak punya hak untuk mendorong dia mau. Lagipula, apa kamu masih beranggapan bahwa berpacaran akan membuat kita termotivasi belajar? Tidak nak. Sangat tidak berpengaruh. Sepanjang saya membimbing siswa di sini, yang ada pacaran hanya akan membuat kita tidak konsenterasi terhadap pelajaran. Nilai kita merosot. Cita-cita tak tercapai lalu hidup menjadi berantakan. Naudzubillah.”
Lagi, aku termenung. Menelaah kata demi kata penjabaran seorang wanita berpengalaman di hadapanku dalam ketidaktahuan dengan kata-kata O besar yang terucap. “Tapi, Bu, saya sudah cinta. Kalau misalnya saya mau menunjukkan rasa suka.. Harus bagaimana?”
Kembali, ia tersenyum. Hangat dari sebelumnya, “Jadikan ia motivasi. Gali potensi diri. Urusan hati sungguh dapat mendorong kita untuk berbuat lebih. Tunjukkan pada ia bahwa kita hebat.” Lalu akupun mengangguk mengerti dan berniat untuk bertanya lagi.
Namun, sebelum sempat membuka katupan bibir, buru-buru wanita dengan tahi lalat di hidung itu menanggapi, “Bentar, tadi kamu bilang.. menunjukkan rasa suka?” Kemudian aku mengisyaratkan ‘iya’ dan beliau pun membenarkan posisi duduknya. ”Nak, kita orang timur. Perempuan pula. Sungguh tak bernilai harganya apabila kita menyatakan cinta pada seorang lelaki yang kita sukai. Ingat, perasaan bisa berubah begitu saja. Kamu masih duduk di bangku SMA. Perjalananmu masih panjang. Akan ada banyak orang yang akan kamu temui di luar sana. Perasaanmu, pasti juga akan berubah, kan? Jangan terlalu menggebu.” Ujarnya panjang lebar. ”Jika cinta, jangan dikatakan. Cukup tunjukkan melalui perbuatan bahwasanya kamu adalah perempuan hebat yang pantas ia kejar sebagai wanita layak pendamping hidupnya. Percayalah, itu akan membuat hidupmu jauh, jauh, jauh lebih indah.”
Kembali, aku mengangguk mantap. Beliau menjawab seluruh tanya-tanya dalam batinku selama ini. Tatapannya buatku sadar, kicauan bijaknya buatku mengerti, bimbingan ini sungguh meringankan hati. Sungguh, ini kali pertama aku bisa tersenyum ringan. Seringan benak yang melepas serangkaian tanya hati pengakar kemunduran kapabilitas diri.
Aku sungguh bahagia hari ini.
“Tidak ada yang lebih indah dari mencintai-Nya. Apapun yang kamu harapkan dari Tuhan pasti akan terkabulkan dalam kurun waktu yang hanya ia yang tahu. Tapi kalau mengharapkan dari seseorang sesama manusia yang kita cintai? Duh, cuma berbuah kecewa!” Ujar kakak penyaji yang masih militan berdiri menutup presentasi.
Bicara tentang hati dan perasaan, memang tak ada habisnya. Memoar filosofi perasaan, hati dan harga diri dari seorang ibu kedua di sekolahku masih membekas tajam dalam Anteriorku. Ditambah dengan cakapan demi cakapan yang tersuara dari balik katup mungil wajah kakak seniorku. Aneh memang, secuil rasa hati dapat mengrupa sebuncah semangat diri untuk lebih mengembangkan intensitas kompetensi. Itukah yang disebut cinta sejati?
Entahlah. Aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin menggapai mimipi.
Belajar Filosofi Hidup Dari Sebatang Pohon
Belajar Filosofi Hidup Dari Sebatang Pohon
Ada 3 hal yang bisa kita pelajari dari pohon :
1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri
Buah adalah hasil dari pohon, dari manakah pohon memperoleh makanan?
Pohon memperoleh makanan dari tanah, semakin dalam akarnya berarti akan semakin mudah baginya untuk menyerap nutrisi lebih banyak.
Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan kita.
Ada cerita menarik mengenai buah kurma yang rasanya manis sekali. Kenapa bisa begitu?
Menurut cerita, pohon kurma ditanam di padang pasir. Bijinya ditaruh di kedalaman 2 meter kemudian ditutup dengan 4 lapisan. Sebelum pohon kurma tumbuh, maka dia berakar begitu dalam sampai kemudian menembus 4 lapisan tersebut dan menghasilkan buah yang manis di tengah padang pasir. Begitu pula hendaknya kita; akan ada proses tekanan yang begitu hebat ketika kita menginginkan hasil yang luar biasa. Seperti perumpamaan pegas yang memiliki daya dorong kuat ketika ditekan.
2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang
Kadang kita protes, kenapa kita yang bekerja keras tetapi yang menikmati justru orang lain.
Ini bicara tentang prinsip memberi, di mana kita bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah. Apa artinya?
Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang lain yang membutuhkan, bukan untuk kenikmatan sendiri. Cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu, tapi jangan pernah berkata cukup untuk memberkati orang lain dengan pemberian kita.
Pelajaran dari Warren Buffet seperti email yang mungkin pernah anda terima tentang kehidupannya. Beliau termasuk salah satu orang yang terkaya di dunia, tetapi kehidupannya mencerminkan kesederhanaan; dia masih tinggal di rumah yang sama seperti yang dia tinggali puluhan tahun lalu, masih menggunakan mobilnya yang lama, tetapi dengan kekayaannya yang berjumlah 35 Miliar USD dia berkomitmen untuk menyumbang 31 Miliar USD. Apakah itu membuatnya menjadi miskin dan lantas menderita? Justru tidak, sekarang kekayaannya justru bertambah-tambah banyak.
Berapa banyak dari kita yang sulit untuk menahan nafsu terhadap barang-barang bermerk, mobil-mobil mewah, atau… yang sederhana : HP?
3. Buah yg dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi
Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberikan dampak terhadap orang lain. Pemimpin itu bukan masalah posisi/jabatan, tapi masalah pengaruh dan inspirasi yang diberikan kepada orang lain.
Claudio Ranieri, mantan pelatih Juventus berkata bahwa Del Piero itu adalah pemimpin, walau ban kaptennya dicopot sekalipun dia tetap pemimpin. Jadi bukan mengenai ban kaptennya, tetapi lebih kepada pengakuan kepemimpinan itu sendiri. Jadi, bisakah kita menerapkan filosofi kehidupan pohon dalam kehidupan kita??
Filosofi dari sebuah sumpit
Filosofi dari Sebuah Sumpit
Alkisah,......
Di jaman dulu hiduplah seorang saudagar kaya pemilik restoran. Restoran itu sangat terkenal karena makanannya sangat khas dan rasanya yang luar biasa. Saudagar pemilik restoran tersebut juga sangat dihormati di daerah tersebut karena sering menyumbangkan harta kekayaannya untuk kaum miskin.
121 BAGIKAN
Alkisah,......
Di jaman dulu hiduplah seorang saudagar kaya pemilik restoran. Restoran itu sangat terkenal karena makanannya sangat khas dan rasanya yang luar biasa. Saudagar pemilik restoran tersebut juga sangat dihormati di daerah tersebut karena sering menyumbangkan harta kekayaannya untuk kaum miskin.
Namun sangatlah disayangkan saudagar itu tidak diberkahi keturunan seorangpun. Menjelang usianya memasuki tahun ke 80, saudagar tersebut hendak menyerahkan restorannya kepada orang yang dipercayainya yang dikira mampu mengelola restoran tersebut dengan baik. Tapi sebagai syaratnya mereka harus menyumbangkan setengah dari pendapatan restoran itu untuk kaum miskin.
Setelah itu diundanglah seluruh pedagang di daerah tersebut untuk datang ke jamuan makan malam yang diselenggarakannya. Terdapat dua puluh meja bundar yang diatasnya sudah terhidang bermacam makanan yang sangat menarik. Tiap meja ada 4 buah kursi dan 4 buah peralatan makan berupa sumpit. Namun anehnya keempat sumpit tersebut mempunyai panjang sama dengan lebar mejanya.
Duduklah ke 80 pedagang tersebut dengan air liur yang mulai menetes mencium aroma masakan yang selangit tersebut. Sesaat sebelum makan saudagar tersebut memberikan kata sambutan yang isinya kurang lebih menyatakan bahwa dia akan memilih 4 dari ke 80 pedagang tersebut sebagai penerus restorannya setelah jamuan berakhir.
Maka dimulailah jamuan makan tersebut. Masing–masing pedagang tersebut telah memegang sumpit mereka dan mau menjepit makanan yang diinginkannya. Sementara sang saudagar tersebut berjalan mengelilingi meja-meja tersebut. Muka sang saudagar tersebut terlihat sangat sedih setelah melewati meja ke 12 dan belum ada satupun pedagang yang mampu memasukkan makanan yang dijepit sumpit tersebut ke dalam mulut. Masing–masing pedagang tersebut mencoba cara–cara aneh agar mampu memasukkan makanan yang dijepit sumpit masing–masing ke dalam mulut masing–masing dan tentu saja itu tidak akan berhasil karena panjang sumpit tersebut selebar meja. Saat sang saudagar melewati meja ke 19 dia mulai kehilangan harapannya untuk mendapatkan penerus restorannya karena yang dia lihat hanyalah sekumpulan orang–orang serakah yang hanya mementingkan keinginan masing–masing.
Saat menuju meja ke 20 tersenyumlah saudagar tersebut seraya berkata pada dirinya sendiri bahwa ke 4 orang inilah yang akan meneruskan restorannya. Rupanya ke 4 orang yang berada di meja ke 20 saling menyuapi lawan di seberangnya karena panjang sumpit tersebut memang cukup untuk sampai ke seberang mejanya. Akhirnya saat jamuan makan selesai hanya ke 4 orang inilah yang kenyang perutnya sedang yang lain sibuk menggerutu karena tidak ada secuilpun makanan yang masuk dalam mulut mereka. Sang saudagar pergi meninggalkan restorannya dengan hati gembira karena tahu bahwa restorannya akan dikelola oleh 4 orang yang bijaksana.
Keempat orang itu tidak mementingkan keinginan masing-masing tapi belajar untuk memberi makan satu sama lain
Itulah tadi kisah filosofi tentang sumpit yang menandakan jangan suka serakah akan semua yang ada di depan kalian karena semua itu hanya sekedar titipan dan suatu saat nanti bisa diambil oleh Sang Pemilik kapanpun Dia mau. Jika kalian sedang di atas berusahalah melihat ke bawah agar selalu bisa mensyukuri nikmat apa yang sedang kalian terima.
Filosofi Memanah
Filosofi Memanah
Alkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.
Setibanya di pinggir hutan, raja memutuskan beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah. Dengan tergopoh-gopoh, si pemburu menyambut kedatangan raja beserta rombongannya.
Setelah berbasa-basi, tiba-tiba si pemburu berkata, "Maaf baginda, sepertinya baginda sedang jengkel dan tidak bahagia. Apakah hasil buruan hari ini tidak memuaskan baginda?"
Bukannya menjawab pertanyaan, sang raja malah beranjak menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan. "Pemburu, kenapa busurmu tidak terpasang talinya? Apakah engkau sudah tidak akan memanah lagi?" tanya sang raja dengan nada heran dan terkejut.
"Bukan begitu baginda, tali busur memang sengaja hamba lepas agar busur itu bisa ‘istirahat'. Jadi, ketika talinya hamba pasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontarkan anak panahnya. Karena berdasarkan pengalaman hamba, tali busur yang tegang terus menerus, tidak akan bisa dipakai untuk memanah secara optimal".
"Wah, hebat sekali pengetahuanmu! Ternyata itu rahasia kehebatan memanahmu selama ini ya," kata baginda.
"Memang, kami turun temurun adalah pemburu. Dan pelajaran seperti ini sudah ada sejak dari dulu. Untuk memaksimalkan alat berburu, kebiasaan seperti itulah yang harus hamba lakukan. Mohon maaf baginda, masih ada pelajaran lainnya yang tidak kalah penting yang biasa kami lakukan."
"Apa itu?" tanya baginda penasaran.
"Menjaga pikiran. Karena sehebat apapun busur dan anak panahnya, bila pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal untuk bisa mencapai sasaran buruan yang kita inginkan".
Mendengar penjelasan si pemburu, tampak sang raja terkesima untuk beberapa saat. Tiba-tiba tawa sang raja memenuhi ruangan. "Terima kasih sobat. Terima kasih. Hari ini rajamu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari seorang pemburu yang hebat."
Setelah cukup beristirahat, raja pun berpamitan pulang dengan perasaan gembira. Dan timbul keyakinan, lain kali pasti akan berhasil lebih baik.
Kita butuh keahlian dalam mengatur irama kerja dan saat kapan kita harus beristirahat, agar keefektivitasan kerja tetap terjaga. Dan, kemampuan (untuk) fokus dalam melakukan segala kegiatan harus mampu kita bina dan tumbuh kembangkan.
Dengan kemampuan mengunakan dua kekuatan tadi, tentu kita akan menjadi manusia yang efektif dalam menggeluti usaha dan pasti (hasilnya) akan maksimal dan memuaskan.
Cerita inspirasi dan motivasi kehidupan
CERITA INSPIRASI DAN MOTIVASI KEHIDUPAN
Alkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.
Setibanya di pinggir hutan, raja memutuskan beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah. Dengan tergopoh-gopoh, si pemburu menyambut kedatangan raja beserta rombongannya.
Setelah berbasa-basi, tiba-tiba si pemburu berkata, "Maaf baginda, sepertinya baginda sedang jengkel dan tidak bahagia. Apakah hasil buruan hari ini tidak memuaskan baginda?"
Bukannya menjawab pertanyaan, sang raja malah beranjak menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan. "Pemburu, kenapa busurmu tidak terpasang talinya? Apakah engkau sudah tidak akan memanah lagi?" tanya sang raja dengan nada heran dan terkejut.
"Bukan begitu baginda, tali busur memang sengaja hamba lepas agar busur itu bisa ‘istirahat'. Jadi, ketika talinya hamba pasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontarkan anak panahnya. Karena berdasarkan pengalaman hamba, tali busur yang tegang terus menerus, tidak akan bisa dipakai untuk memanah secara optimal".
"Wah, hebat sekali pengetahuanmu! Ternyata itu rahasia kehebatan memanahmu selama ini ya," kata baginda.
"Memang, kami turun temurun adalah pemburu. Dan pelajaran seperti ini sudah ada sejak dari dulu. Untuk memaksimalkan alat berburu, kebiasaan seperti itulah yang harus hamba lakukan. Mohon maaf baginda, masih ada pelajaran lainnya yang tidak kalah penting yang biasa kami lakukan."
"Apa itu?" tanya baginda penasaran.
"Menjaga pikiran. Karena sehebat apapun busur dan anak panahnya, bila pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal untuk bisa mencapai sasaran buruan yang kita inginkan".
Mendengar penjelasan si pemburu, tampak sang raja terkesima untuk beberapa saat. Tiba-tiba tawa sang raja memenuhi ruangan. "Terima kasih sobat. Terima kasih. Hari ini rajamu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari seorang pemburu yang hebat."
Setelah cukup beristirahat, raja pun berpamitan pulang dengan perasaan gembira. Dan timbul keyakinan, lain kali pasti akan berhasil lebih baik.
Kita butuh keahlian dalam mengatur irama kerja dan saat kapan kita harus beristirahat, agar keefektivitasan kerja tetap terjaga. Dan, kemampuan (untuk) fokus dalam melakukan segala kegiatan harus mampu kita bina dan tumbuh kembangkan.
Dengan kemampuan mengunakan dua kekuatan tadi, tentu kita akan menjadi manusia yang efektif dalam menggeluti usaha dan pasti (hasilnya) akan maksimal dan memuaskan.
Kegunaan dan Hakikat Angka Nol
Kegunaan dan Hakikat Angka Nol
Angka nol adalah suatu jumlah angka yang sangat unik. Ini karena angka Nol menggambarkan ketiadaan. Kekosongan dan tanpa isi. Dengan kata lain angka nol itu menggambarkan bila sesuatu tidak ada. Angka nol itu tidak ada sehingga menjadi sesuatu yang sangat untuk. Angka nol pertama kali ditemukan di India. Digambarkan sebagai lingkaran penuh. Sesuatu yang tanpa isi.
Angka Nol menunjukkan adanya ketiadaan. Suatu bilangan yang sangat jenius mempermudah berbagai cara kita agar hitung-hitungan menjadi lebih gampang. Tidak ruwet. Juga malah mengeluarkan masalah-masalah baru dalam hitung-hitungan.
Bagi Angka Nol segala sesuatu apabila dikalikan dengan nol maka hasilnya sama dengan nol. Angka berapapun jika dikalikan dengan ketiadaan maka hasilnya akan menjadi ketiadaan. Dalam perkalian maka dapat dikatakan bahwa apel berjumlah tidak ada maka hasilnya sama sekali tidak ada. Apel itu jika dihilangkan tentu saja sama sekali tidak bersisa.
Angka nol juga memiliki kekhususan apabila di jumlah dengan bilangan berapapun hasilnya sama. Ditambah dengan satu hasilnya sama dengan satu. Ditambah dengan dua hasilnya sama dengan dua. Ditambah tiga hasilnya sama dengan tiga. Dikurangi juga demikian. Dikurangi angka berapapun hasilnya tetap saja sama. Tentu saja hal ini adalah hal yang logis. Jika sebuah apel ditambah tidak ada apel hasilnya sama dengan satu apel.
Unik apabila angka Nol ini dibagi dengan angka berapapun kecuali Nol hasilnya adalah ketidakberhinggaan. Inilah cara kita mencapai ketidakberhinggan paling mudah. Dengan membaginya dengan nol. Jumlah tidak ada dalam satu atau dua atau semacamnya jumlahnya sangat banyak bahkan tidak berhingga.
Nol adalah angka yang unik karena dirinya merupakan perwakilan dari ketiadaan dan kekosongan. Sebuah lingkaran penuh yang membuat kita bisa menghitung dengan memasukkan faktor ketiadaan.