Selasa, 06 Desember 2016

[INDEX] Daftar tugas mata kuliah filsafat pendidikan

Nama :syifa Aulia
Nim    :2227150122
kelas  :PGSD 3 C

1.mengapa ada filsafat dalam pendidikan
2.hubungan filsafat dengan pendidikan
3. karakteristik perkembangan fisik
4. filsafat sebagai hasrat
5. membaca karangan filsafat
6. etika filsafat moral
7. filsafat manusia
8. filsafat dari kehidupan sehari hari
9. faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan orang dewasa
10. jenis jenis kebutuhan anak usia sekolah dasar
11. belajar bergaul dan bekerja dalam sekelompok sebaya
12. karakteristik perilaku afektif, konatif, dan kepribadian
13. karakteristik perkembangan fisik
14. filsafat bersifat eksistensial
15. permulaan filsafat adalah keheranan
16. hakikat historisitas
17. manusia adalah "ens metaphysicum"
18. realita hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan
19. bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan
20. arti sejarah filsafat
21. kegunaan filsafat bagi manusia
22. kerangka berpikir ilmiah
23. gerakan berpikir ilmiah
24. filsafat sebagai ajaran hidup
25. memahami anak berperilaku menyimpang
26. Filosofi hidup kura-kura
27. Filosofi malam
28. Filosofi kehidupan elang
29. Filosofi warna dalam kehidupan
30. Filosofi layang-layang
31. Filosofi balon
32. Filosofi daun dan angin
33. Filosofi Angin
34. Filosofi hidup dan air
35. Filosofi biji
36. Filosofi diam
37. Burung sakura dan filosofinya
38. Filosofi burung
39. Filsoofi kacamata
40. Filosofi buah pepaya
41. Memahami sebuah filosofi sapu lidi
42. Pengetahuan
43. Kriteria kebenaran
44. Postmodernisme
45. Logika
46. Vitalisme
47. Eksistensialisme
48. apa yang membedakan filsafat manusia dari ilmu-ilmu lain tentang manusia
49. Dualisme
50. Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan
51. Sombong berujung malu
52. filosofi bersepeda
53. Filsafat tikus dapat membunuh singa 
54. filsafat hiu dalam kehidupan
55. Filosofi hujan
56. filosofi seekor burung rajawali
57. filosofi pohon jati
58. filosofi hati
59. Belajar filofoi dari sebatang pohon
60. Filosofi dari sebuah sumpit
61. Filosofi memanah
62. Cerita motivasi dan inspirasi hidup
63. Kegunaan dan hakikat angka nol
64. Makna "kita! lo aja kali!" dari sudut pandang filsafat politik
65. Permasalahan lupa dan ingatan manusia
66. Penghianatan terbesar dalam hidup manusia
67. Mengapa binatang tidak boleh di siksa atau di bunuh sembarangan
68. Apakah uang bisa membeli kebahagiaan?
69. Dua pandangan hidup filosofis tentang kenyataan
70. Filosofi mawar berduri dan jiwa manusia
71. Memahami arti hidup
72. Filsafat cinta
73. Belajar filsafat membuat hidup bahagia
74. Ber-Filsafat yuk!
75. Filsafat cinta
76. Filsafat sebagai pandangan hidup
77. Filsafat sebagai cara berfikir
78. Timbulnya filsafat dalam kehidupan manusia
79. Pentingkah (Ber) Filsafat
80. Filosofi bambu
81. Filosofi pensil
82. Filosofi cinta, pernikahan, kehidupan, kebahagiaan, dan perselingkuhan
83. Kontribusi filsafat ilmu dengan ilmu pengetahuan
84. Kontribusi filsafat dengan kehidupan sehari-hari
85. Penerapan filsafat sehari-hari
86. Kisah seorang gadis buta
87. sertifikat dalam kegiatan seminar nasional dan bedah buku dengan tema "Struktur Fundamental Pedagogik Kritis Paulo Freire" 

Memahami anak berperilaku menyimpang


MEMAHAMI ANAK BERPERILAKU MENYIMPANG
Pada zaman modern sekarang ini, peran guru sangat besar dalam pendidikan dan kehidupan anak, karena banyak tugas pendidikan yang semestinya dilakukan oleh orang tua dilimpahkan kepada para guru, karena berbagai alasan. Para guru dapat memberikan rasa aman baik secara sosial maupun emosional, terutama untuk siswa-siswa yang memiliki perilaku menyimpang yang pada umumnya tidak dapat menerima perlakuan tersebut dilingkungan keluarga.
Keberadaan anak berperilaku menyimpang sering dihadapi guru pada saat mengajar. Pada saat-saat tertentu mereka tidak ada bedanya dengan anak-anak lain pada umumnya. Mereka memiliki wajah yang manis, sangat menggemaskan, namun ia juga sering terlibat pertentangan dengan peraturan sekolah dan guru. Dia sering menolak untuk mengerjakan tugas, membenahi peralatan atau duduk tertib dikelas. Dia sering berbuat rebut dikelas dan marah-marah tanpa sebab.
Untuk mengatasi permasalahan anak semacam itu, perlu ada kerja sama antar staf dan semua guru disekolah. Penyimpangan anak tidak semata-mata dilakukan didalam kelas saja, tapi terjadi juga diluar kelas pada saat jam istirahat. Ketika seorang siswa berbuat nakal diluar kelas, semua staf sekolah harus beranggapan bahwa hal tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab guru yang mengajarnya. Semua staf sekolah berkewajiban untuk mengasuh semua siswa pada saat diluar kelas.
Permasalahnnya adalah, bahwa terdapat keengganan dari para guru untuk berbagi masalah dengan guru lain, terutama kepada yang lebih senior, karena takut dianggap gagal. Sebaliknya, guru lain juga enggan untuk menyampaikan tawaran kepada guru lain untuk membantu mengatasi berbagai hal yang terjadi. Namun perlu kita sadari bahwa satu-satunya cara yang efektif untuk menciptakan perilaku positif diseluruh sekolah merupakan tanggung jawab bersama seluruh staf sekolah.   

Filsafat sebagai ajaran hidup


FILSAFAT SEBAGAI AJARAN HIDUP
Apabila filsafat dijadikan suatu “ajaran hidup”, maka ini berarti bahwa orang mengharapkan dari filsafat itu dasar-dasar ilmiah yang dibutuhkannya untuk hidup.
Filsafat diharapkan memberikan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana kita harus hidup untuk menjadi manusia sempurna, yang baik, yang susila, dan bahagia. Jadi tidak hanya ilmu pengetahuan yang teoritis saja, melainkan yang praktis juga, artinya yang mencoba menyusun aturan-aturan yang harus dituruti agar hidup kita mendapat isi makna dan nilai. Dan ini sesuai dengan arti “filsafat” sebagai usaha mencari kebijaksanaan, yang meliputi baik pengetahuan dan pemahaman yang mendalam (insight) maupun sikap hidup yang “benar” yang sesuai dengan pengetahuan itu..
Sebenarnya pada hakikatnya keinginan yang terdapat dalam hati kita itu tidak hanya dorongan untuk mengerti saja. Itu hanya satu aspek saja, satu fungsi saja, meskipun satu fungsi yang sangat penting bagi keseluruhan manusia. Karena itu dorongan untuk mengerti bagaimanakah sebenarnya hakikat kenyataan itu, bagaimanakah hakikat manusia itu untuk dapat hidup menurut kebenaran itu. Inilah yang menyebabkan filsafat berarti mencari pandangan hidup, mencari pegangan dan pedoman hidup.
Maka tidak mengherankan bahwa filsafat dalam sejarahnya dipandang sebagai ajaran hidup juga. Demikian halnya misalnya pada zaman dulu antara lain pada masa Pythagoras, Plato dan lain-lain.
Dalam kalangan suku jawa dorongan ini kerapkali terlihat dalam ucapan yang menganjurkan supaya manusia mengerti “sariro sejati” (apakah dia sebenarnya). Bahkan dikatakan bahwa manusia, jika hendak mengerti “sasiro sejati” itu harus mengerti “pati seseliran”.

Gerakan pemikiran ilmiah

Gerakan Pemikiran Ilmiah
Kelahiran cara berpikir ilmiah adalah revolusi besar, karena sebelumnya manusia lebih banyak menuruti gagasan magis dan mitos. Gerakan pemikiran ilmiah terjadinya seiring dengan perubahan pola berpikir yang berdasarkan receptive mind ke pola berpikir inquiring mind. Geliat ini tak lepas dari hubungannya dengan upaya manusia untuk menjawab pertanyaan “apa yang membuat ilmu itu rasional.?” Pengungkapan ilmiah manusia ini menonjol pada zaman yunani kuno, abad ke-5 dan ke-4 SM.
Gerakan pemikiran ilmiah ini ternyata tidak sekali jadi layaknya “menggosok lampu aladin.” Prosesnya berjalan secara berkesinambungan selama berpuluh-puluh abad. Memang direntang perjalanan ini, acaapkali pula terjadi masa0masa “penceklik.” Semasa itu terjadi semacam stagnasi di kawasan-kawasan tertentu. Namun dikawasan lain gerakan tersebut terus berlangsung. Dengan demikian, gerakan pemikiran ilmiah ini boleh dikatakan tidak pernah terenti sama sekali. Gerakannya berlangsung secara estafet. Jauh sebelum lahir dan memunculkan peradaban besar yunani kuno, gerakan-gerakan ini sudah berkembang di berbagai peradaban besar pendahulunya.
Mencermati perjalanannya, muncul kesan bahwa gerakan pemikiran ilmiah itu bagaikan bangunan sebuah siklus. Dimulai dari gerakan pemikiran tradisional alamiah, lalu dilanjutnya gerakan ke gerakan pemikiran rasionalempiris yang bersifat ilmiah, dan selanjutnya saat mencapai puncak perkembangannya, muncul “kerinduan” kembali kepada nilai-nilai tradisional. Siklus ini menampilkan perjalanan dari gerakan-gerakan yang tak jauh berbeda dari apa yang pernah terjadi sebelumnya. Namun dalam kurun yang berbeda.

Kerangka berpikir ilmiah

kerangka Berpikir Ilmiah
Karangan ilmiah merupakan cerminan dari penalaran ilmiah. Sains atau pengetahuan ilmiah merupakan bangunan pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematis dan diperoleh melalui proses ilmiah dengan menggunakan penalaran ilmiah. Ciri-ciri pokok penalaran ilmiah adalah logis dan analitis.
Secara epistemologis, kegiatan berpikir ilmiah melingkupi suatu rantai berpikir logis yang merupakan pengkajian sesuatu yang umum (general) untuk menghasilkan sesuatu yang khusus (specific) yang kita kenal dengan logika berpikir deduktif. Ciri-ciri pokok memuat pola dan alur pikir yang mengacu kepada kerangka berpikir khusus. Berpikir ilmiah terangkai secara sistematis, dalam suatu kerangka yang terdiri dari: penalaran, logika, analitis, konseptual, dan kritis. Proses berpikir ilmiah terbangun oleh kerangka utama ini. Dengan demikian, berpikir bisa dikategorikan sebagai ilmiah, bila prosesnya mengikuti rangkaian kerangka tersebut.
Penalaran
Penalaran berarti berpikir dengan menggunakan nalar (rasio). Diartikan pula sebagai cara berpikir yang logis, dengan mengembanagkan atau mengendaalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman. Atau juga sebagaai proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip. Penalaran merupakan operasi intelek ketiga, yang tidak hanya berhenti pada konsep, proposisi, dan penilaian, melainkan juga menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan atas pengetahuan yang telah dicapai.  
Sejalan dengan makna dimaksud, maka penalaran dapat disimpulkan sebagai proses berpikir dalam menarik sebuah kesimpulan berupa pengetahuan berdasarkan logika, dan bersifat analitik. Penalaran memang merupakan proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa pengetahuan baru. Jadi dalam mengambil sebuah kesimpulan tidak bersifat asal-asalan, asal jadi dan asal simpul, lalu dianggap sebagai sesuatu yang benar. Padahal kesimpulan dimaksud sama sekali tidak sejalan dengan nalar (rasio). Sama sekali tidak masuk akal, atau bersifat subjektif.
Logika
Bila penalaran lebih mengacu kepada proses dan alur pikir, maka logika lebih kepada produk pemikiran itu sendiri. Logika mengkaji criteria untuk menentukan kebenaran pernyataan atau argument. Dengan demikian, logika dihubungkan dengan proses menarik kesimpulan menurut cara tertentu, agar diperoleh suatu kesimpulan yang valid. Secara luas logika diartikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Kesimpulan yang dihasilkan dinilai logis (masuk akal) dan absah. Logika merupakan asas dari penalaran itu sendiri. Dalam logika, berpikir berarti menyusun silogisme-silogisme untuk mendapat kesimpulan yang tepat dengan menghilangkan setiap kontradiksi.
Analisis
Logika induktif, merupakan sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah dari sejumlah hal khusus pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi. Logika ini lazim disebut sebagai logika material, yaitu berusaha menemukan prinsip penalaran yang bergantung kesesuaiannya dengan kenyataan. Oleh karena itu, kesimpulan hanyalah kebolehjadian, dalam arti selama kesimpulan itu tidak ada yang menyangkalnya maka kesimpulan itu benar.
Konsepsional
Proses berpikir ilmiah bersifat konsepsional. Berpikir atas dasar dan mengacu kepada konsep tertentu. Pengembangan konsepsional yang bersifat kontemplatif kemudian disusul dengan penerapan konsep-konsep ilmiah ke masalah-masalah praktis. Konsep ilmiah yang bsersifat abstrak menjelma dalam bentuk konkret yang berupa teknologi. Secara etimologis, konsep itu sendiri diartikan sebagai 1) rancangan atau buram surat 2) idea tau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret.
Kritis
Kritis dapat diartikan sebagai 1) bersifat tidak lekas percaya 2) bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan dan 3) dalam penganalisisan. Sebenarnya sikap kritis ataupun berpikir kritis merupakan bagian dan rasa ingin tahu manusia itu sendiri. Dari rasa ingin tahu ini selanjutnya manusia mengamati, memilah, memilih, apa yang ingin diketahuinya secara lebih mendalam. Rasa ingin tahu ini juga diikuti dengan aktivitas secara coba-coba. Dari hasil mencoba-coba (trial and error) ini pula manusia mengenal kondisi, situasi, serta sifat-sifat maupun proses yang terjadi dialam sekitarnya. Karl popper menyebutnya sebagai belajar dari kesalahan yang merupakan karakteristik semua makhluk hidup. Mulai dari binatang tingkt rendah atau tingkat tinggi, apakah ia seekor simpanse atau seorang ilmuan.

Kegunaan filsafat bagi manusia

KEGUNAAN FILSAFAT BAGI MANUSIA
Melalui pemikiran filsafat, manusia dimungkinkan dapat melihat kebenaran tentang sesuatu diantara kebenaran-kebenaran yang lain. Hal ini memungkinkan ia mencoba mengambil segala kemungkinan informasi (alternatif), diantara alternatif kebenaran yang ada ketika itu. Dalam hal ini manusia yang mampu mengadakan pilihan-pilihan yang tepat terhadap masalah-masalah yang dihadapi, maka ia belajar mendekati “kebijaksanaan”.
Seorang yang bijaksana akan memiliki kemungkinan yang paling tepat dalam usahanya mencapai “kesejahteraan hidup”. Karena ia mempunyai wawasan yang tepat dan mendalam. Dia berusaha mengerti apa artinya hidup dan dirinya dengan segala masalah yang muncul dan yang ia hadapi.
Disamping itu filsafat memberikan petunjuk dengan metode pemikiran reflektif dan penelitian penalaran supaya kita dapat menyerasikan antara logika, rasa, rasio, pengalaman dan agama didalam usaha manusia mencapai pemenuhannya dalam usaha yang lebih lanjut yaitu: “Mencapai Hidup Sejahtera”.
Dalam hal ini manusia tidak dengan begitu saja menceburkan diri kedalam salah satu perbuatan atau situasi, karena ia selalu sadar, bahwa ia berbuat tentang sesuatu atau tidak berbuat tentang sesuatu itu. Disini peranan filsafat ialah secara kritis menyerasikan kehidupan manusia, sehingga tampak sikap hidup manusia serta arah yang mendasarinya didalam usaha mereka mencapai kesejahteraan hidup tadi. Selanjutnya akan dicoba dibahas tentang tujuan praktis dan tujuan umum pelajaran filsafat. 

Arti sejarah filsafat

ARTI SEJARAH FILSAFAT
Sejarah filsafat ialah penyelidikan ilmiah mengenai perkembangan pemikiran filsafat dari seluruh bangsa manusia dalam sejarah. Apabila sejarah filsafat dianggap satu-satunya pengantar, bahkan satu-satunya filsafat, itu kami anggap kurang tepat. Lagi pula dilihat dari sudut didaktik, pembimbing yang nelulu “historis” saja kami anggap kurang pada tempatnya karena banyaknya aliran-aliran dan pendapat-pendapat yang sering bertentangan satu sama lain. Hal itu dengan mudah dapat menimbulkan salah faham dan menghasilkan kekecewaan belaka.
Akan tetapi jika pengantar historis itu diberikan disamping pengantar sistematis maka ia akan sangat besar faedahnya. Sering kali persoalan-persoalan filsafat hanya dapat dipahami jika dilihat perkembangan sejarahnya. Ahli-ahli besar seperti Aristoteles, Thomas Aquino, Immanuel Kant itu hanya dapat dimengerti dari aliran-aliran yang mendahului mereka. Aliran yang satu biasanya merupakan reaksi atau synthesis dari aliran lain. Dan dari seluruh perjalanan pemikiran filsafat itu menjadi kentara juga persoalan-persoalan manakah yang selalu tampil kembali bagi setiap kurun masa, bagi setiap bangsa dan setiap orang. Oleh karena sejarah filsafat itu merupakan mata kuliah tersendiri, maka maksud bab ini tidak lain hendak memperkenalkan beberapa nama-nama dan aliran-aliran yang penting, agar saudara dapat “menempatkan” nama-nama yang saudara dengar itu dalam mata pelajaran lainnya juga, seprti dalam sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik dan sebagainya.